Namaku ... Shafa Annisa

Kamis, Agustus 06, 2009

Sudah hampir 3 mingguan, sulungku belajar di kelas 1A SD Muhammadiyah Kadisoka Yogyakarta. Alhamdulillah, semuanya berjalan indah. Shafa ku sudah mulai biasa bangun dan mandi pagi, belajar dan mengerjakan PR ... woii amazing moments for me!

Jadwal kegiatannya kurang lebih seperti ini: bel tanda masuk kelas berbunyi pukul 6.30 WIB, istirahat jam 09.00 WIB trus dilanjutkan sampai saatnya pulang pukul 11.30 WIB.
Pada suatu sore, shafa bilang bahwa hari ini semua anak dikelasnya diminta bu guru memperkenalkan dirinya masing-masing. Ini cuplikan kalimat perkenalan anakku didepan kelas yang diceritakan kepadaku:


Namaku Shafa Annisa
Nama ayahku Pak Chaeron
Ibuku Bu Apriani
Aku punya adik, namanya Dik Hanun
Dia lucu sekali, rambutnya keriting, tapi yang kriwil-kriwil hanya bawahnya saja.
Sudah....


Terima kasih anakku, "keluguanmu" adalah energi positif yang luar biasa bagiku!

Teach from my heart

Senin, Juli 13, 2009

Setelah hampir 12 tahun mengajar, akhirnya dani berani menulis cerita ini. Walau sekarangpun masih belum apa-apa, jauh dari titik sempurna, tapi dani tetap terus belajar untuk menjadi dosen yang 'baik'...

Tahun 1997, tepatnya bulan Mei, dani putuskan untuk menjadi dosen. Hanya dengan modal bahwa dani harus bisa dapat 'uang' sendiri dan praduga bahwa mengajar itu mudah dan tentunya waktu kerja bisa 'dikorupsi' (KPU tau enggak ya?)sehingga bagi ibu-ibu semacam saya lebih leluasa mengatur jadwal mengurusi keluarga dirumah.

Ternyata... praduga itu salah. Memang tidak salah semuanya tapi hampir '100%' salahnya. Tentang gaji benar, alhamdulillah dani tidak perlu menadahkan tangan minta ke suami untuk membeli segala keperluan yang dani butuhkan, malah sisanya masih bisa digunakan untuk membayar uang les renang dan gitarnya anak-anak.

Tentang waktu bisa dikorupsi... tidak sepenuhnya benar walo juga tidak salah sih (he he he ). Kalau jadwal mengajarnya siang, bisalah datang siang saja. Tapi seiring dengan perjalanan waktu, proses pembelajaran diri tentang tanggung jawab dan pemahaman akan makna seorang 'guru' sing digugu lan ditiru, ternyata... untuk 'mengambil jatah waktu' kantor apalagi mengajar menjadi sesuatu yang sulit.

Rasanya 'risih' karena tidak masuk dan pulang kantor tepat waktu, karena dani mendapatkan gaji tetap untuk itu. Belum lagi bahwa adanya kewajiban penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Wow... kurang lebih 8 jam per hari bisa kurang. Tapi itu semua masih bisa 'disiasati'.

Tapi kalau sudah menyangkut nurani, lain permasalahannya...
Rasanya 'malu' karena mengajar, bimbingan kerja praktek, tugas akhir tidak sesuai dengan jadwal. Dani yakin ada 'sesuatu' yang bisa ditransfer ke mahasiswa dengan datang mengajar tepat waktu. Ada 'sesuatu' yang mereka tangkap melihat dosen pembimbingnya siap materi dan tepat jadwal untuk konsultasi. Tidak sekedar materi skripsi tapi lebih dari itu kedisiplinan dan semoga sedikit (sedikit sekali malahan) keteladanan tentang keteguhan memegang amanah. Amanah pada saat tanda tangan kesediaan menjadi dosen dan saat menerima surat keputusan pengangkatan dosen.

Ternyata memang berat dan sulit menjadi dosen yang amanah ya?

It's not time yet ... my baby

Rabu, Mei 20, 2009

IE Department, Ciptomangunkusumo Build., Ground Floor

Jarum jam sudah merambat keangka satu. Aku masih asik ngobrol dengan teman-teman tata usaha tentang isu-isu politik (he..he..) seputar pemilihan dekan FTI, yang direncanakan diadakan pada 30 Juni 2009. Ah sudahlah, ngoprek-ngoprek blog aja, setelah sekian luuuuuaama tidak pernah kusatroni karena bulan-bulan ini banyak sekali yang harus kupikirkan dan kukerjakan (wuihhh.. gayane dek!).

(Open blog)
Wah... ada 2 "tamu" yang kangen dengan tulisanku. Ngga salah nih? Oke, akhirnya "kuberanikan" menulis tentang ... (Diilhami email dari teman sebelah kamar pas kost di Bandung)

(Write a story)
Pada suatu waktu (satu kalimat yang selalu kepakai jika mendongengkan cerita buat anak-anakku...once upon time) ketika aku masih kecil, aku sedang asik bermain-main dilantai dengan bonekaku. Aku ingat sekali, boneka itu sudah lusuh karena harus dipakai bermain bergantian dengan 2 kakak cewekku. Walaupun tidak seindah dan semahal boneka Barbie, seperti yang kulihat di TV dan majalah, tapi Si Koty (panggilan boneka itu karena bajunya kotak-kotak...nggak nyambung ya?) tetep mainan the best for me dah...karena memang nggak ada yang lain (he he he ).

Disampingku, duduk dikursi, ibuku sedang menyulam taplak meja (sekarang sudah jarang ditemui meja yang bertaplak ya?). Aku sedang bermain-main dibawah kursi dimana ibuku bekerja, melihat betapa sulaman ibu tidak berbentuk.

"Ibu sedang menyulam gambar apa? Kok kacakadut sih, bingung aku melihatnya."
"Sudahlah, kamu bermain saja dulu, nanti kalo sulaman ibu sudah jadi, pasti kamu tahu apa gambarnya dan pasti indah dilihat".

Setelah berapa lama, kudongakkan kepala keatas, lho kok...

"Sulaman ibu kok malah tambah ruwet sih aku lihat dari bawah. Emang gambarnya apa sih bu?".
"Sudahlah, kamu bermain saja lagi, ibu belum selesai menyulamnya, belum bisa ibu tunjukkan ke kamu, nanti ya? Sudah gih, main saja dulu".

Aku teruskan "'sandiwaraku" dengan si Koty, sambil sesekali mendongakkan kepala keatas, pingin segera tahu hasil sulaman ibu.

"Sabarlah nduk, ini sebentar lagi juga sudah selesai. Biar tidak capek kepalamu, tidak perlu sebentar-bentar lihat keatas, nikmati permainanmu dengan Koty", kata ibuku lagi.

Setelah sekian lama bermain dengan Koty, aku tidak sadar ketika taplak meja sulaman ibuku sudah jadi. Taplak meja bergambar bunga mawar berwarna merah mudah, terbentang indah dimeja sampingku bermain dengan Koty.

Sambil mengelus kepalaku dan memelukku, kudengar ibuku berkata:

"Kalau dari bawah memang kelihatannya begitu membingungkan anakku, tapi dari atas, sulaman itu sudah mempunyai pola, jadi pasti akan mempunyai bentuk yang terlihat indah."

(Ending story)
Bermainlah (bekerjalah) dengan lurus sekuat hatimu, walau semakin hari semakin banyak keruwetan (masalah, kesedihan, kegagalan) tapi yakinlah, bersabarlah pada saatnya akan kamu dapatkan keindahan itu (keberhasilan). Kamu sebagai hamba Allah teruslah bekerja dan berdoa, biarkan Dia-Allah juga melakukan sendiri pekerjaanNya, hingga semuanya pasti akan indah pada waktunya.

I just wanna become a good mother for them...

Rabu, Februari 18, 2009


Diposting pada 2009-02-16 09:00:00 dalam channel keluarga/anak

Adakalanya dhani terlalu memaksakan kehendak kepada shafanun. Padahal, mereka juga punya banyak keinginan, yang mungkin belum bisa, enggan atau malahan takut disampaikan kepadaku...

1. Meminta Maaf.
Salah satu hal terpenting yang dapat kita-orang tua katakan pada buah hati adalah, "Maaf, Mama/ Papa telah mengacaukan acaramu, ya Sayang." Kebesaran hati untuk mengakui kita telah bersalah akan menyadarkan sang anak, siapa pun termasuk dirinya, bisa saja berbuat salah.
2. Unconditional Love.
Jangan pernah barengi rasa cinta dengan sederet syarat yang akan membebani sang anak. Sebagai orangtua, kita wajib mencintainya semata-mata karena ia dilahirkan di tengah keluarga kita. Jadi, bukan lantaran ia piawai memainkan tuts-tuts piano atau memperoleh nilai gemilang pada ulangan matematika. Sering-seringlah katakan kepadanya, kita akan tetap mencintainya berapa pun nilai yang ia peroleh. Hari demi hari, cinta kita untuknya akan semakin bertambah besar. Tentu saja jangan sebatas omongan di bibir, tapi tunjukkan dalam tindakan nyata.
3. Evaluasi Sikap.
Jangan lupa untuk senantiasa mengevaluasi perilaku kita-orang tua sendiri. Bagi sang anak, kita adalah guru pertama dan utama di dalam hal pelajaran moral. Jadi, pastikan kita sudah memberi teladan yang Anda inginkan untuk ia tiru. Setiap menjelang tidur, tanyakan apa yang sudah dipelajari sang anak dari perbuatan kita hari ini.
4. Insting Mengasuh.
Andalkan insting kita dalam soal pengasuhan anak. Jika meragukan kemampuan si pengasuh, atau merasa sang anak tak melakukan sebaik yang ia mampu lakukan, sangat mungkin insting kita benar. Tak perlu merasa khawatir akan melukai perasaan atau harus melewati perdebatan sengit dengan pengasuh yang diragukan. Bagaimanapun, anak harus diprioritaskan.
5. Jangan Overprotektif.
Mustahil bagi kita-orang tua untuk terus-menerus mencoba melindungi buah hati dari segala bentuk kekecawaan, kegagalan, ataupun aneka situasi yang penuh gejolak. Anak-anak perlu belajar bagaimana menangani kesulitan agar bisa menghadapi begitu banyak tantangan hidup.
6. Hindari Lingkaran Setan.
Jika putra-putri kita melakukan kesalahan yang itu-itu juga, padahal sudah diingatkan 100 kali untuk tidak melakukannya lagi, tak perlu buang energi mengeluarkan peringatan ke-101. Sebagai gantinya, kondisikan sang anak dan mudahkan cara berperilakunya. Contohnya, jika ia selalu meletakkan baju di lantai kamar mandi. Ketimbang capek berulang kali melarangnya, mengapa tak memasang cantelan yang terjangkau olehnya agar ia bisa menggantungkan bajunya di situ.
7. Kesempatan Bereksplorasi.
Kita-orangtua seringkali cemas anaknya memecahkan jambangan besar atau melakukan berbagai hal yang menimbulkan gangguan dan kekacauan. Padahal, hanya dengan cara itulah anak balita akan belajar dan tahu banyak hal.
8. Bangunkan Si Kecil.
Bukan hal terlarang untuk membangunkan Si Kecil yang tengah tertidur pulas. Tak jarang hal ini justru merupakan ide yang oke, lho! Contohnya, bila dirasa sudah cukup tidur di pagi hari, membangunkannya justru akan membantunya agar di siang hari ia bisa tidur pulas. Begitu juga ketika membangunkannya di sore hari agar nanti tak tidur terlalu larut.
9. Larang Anak Bermulut Busuk.
Anak tidak dilahirkan untuk membenci siapa pun. Jika hal buruk semacam ini sampai terjadi, itu pasti akibat peniruan. Jangan pernah izinkan ia melakukan tindakan diskriminatif dalam bentuk apa pun kepada siapa pun. Bantulah ia menemukan cara-cara positif dalam memperlakukan orang lain. Ajari ia untuk lebih memusatkan perhatian pada persamaan, ketimbang fokus pada perbedaan yang bisa memicu perpecahan.
10. Berikan Umpan & Alihkan.
Ketika anak menunjukkan perilaku yang tidak diharapkan, usik ia dengan sesuatu yang justru bertolak belakang dengan bentuk perilakunya. Contohnya, jika ia mengambil makanan dari piring orang lain, ulurkan saja segelas susu hangat kesukaannya.
11. Utamakan Persahabatan.
Kita-orang tua tak bisa menjamin anak akan disukai semua orang. Bukan tugas kita pula untuk membuatnya menjadi sosok terkenal atau populer. Namun, dukunglah terus persahabatannya dengan siapa saja dan jangan pernah mencoba membatasi kehidupan sosialnya.
12. Warnai Hidup Dengan Indah.
Artinya, sikap dan tutur kata kita-orang tua yang pedas akan menjatuhkan harga dirinya. Cobalah ubah tutur kata, sehingga pandangan setiap orang terhadapnya jadi lebih positif. Contohnya, daripada mengatakan "Duh, anakku, kok, enggak pernah bisa diam, sih?" bukankah lebih manis mengatakan, "Anakku memang luar biasa energik, ya!"
13. Dengarkan Sebelum Memberi Nasihat.
Momen paling genting menjadi orangtua adalah saat di mana buah hati Anda mengalami sentuhan emosi yang mendalam, seperti dilanda rasa sedih, takut, marah, kecewa, atau malu. Pertama, bantulah putra/putri Anda mengutarakan apa yang dirasakannya dan bagaimana ia merasakannya. Setelah itu, barulah sarankan bagaimana caranya ia memecahkan masalah. Cara ini akan sangat membantu anak terbiasa mencari solusi sendiri atas masalah yang dihadapinya.
14. Tunjukkan Perbedaan.
Jangan ragu untuk menunjukkan perbedaan-perbedaan yang ada pada anak. Contohnya, Si Kecil gemar makanan yang manis-manis, sementara kita lebih suka makanan segar. Keanekaragaman seperti ini menjadi hal yang selalu menarik bagi anak-anak. Mereka akan belajar, setiap orang bisa saja memiliki pandangan dan selera berbeda. Bukankah ini menjadi pelajaran penting mengenai keberagaman dalam hidup?
15. Jangan Diperbudak Teori.
Tak usah membiarkan diri diperbudak oleh teori tentang tonggak-tonggak perkembangan. Setiap anak memiliki tahap perkembangannya sendiri. Jangan kelewat memaksa anak. Dengan caranya sendiri ia akan memberitahu Anda kapan ia siap untuk mulai merangkak, berjalan atau membaca.
16. Batasi Puja-puji & Basa-basi.
Bantulah anak mengembangkan sistem penghargaan dalam dirinya. Dengan demikian ia akan mengucapkan selamat kepada dirinya setiap kali berhasil menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Ubahlah ungkapan kita dari "Papa/Mama bangga sama kamu" menjadi "Sudah semestinya kamu betul-betul bangga pada dirimu, Nak."
17. Biarkan Anak Kerjakan PR.
Jangan terlalu banyak ikut andil dalam pengerjaan pekerjaan rumah (PR) Si Kecil. Ingat, mengerjakan PR merupakan kewajiban anak, dan bukan tugas kita. Jika kita terbiasa mengambil alih tanggung jawabnya, ia akan kehilangan rasa percaya diri bahwa ia mampu mengerjakannya sendiri tanpa bantuan Anda.
18. Prioritaskan Kejujuran.
Jangan pernah berbohong di depan anak. Contohnya, mengatakan suami tak ada di rumah ketika ada telepon dari bank pemberi kredit, padahal saat itu suami tengah duduk santai di sofa bersama keluarga.
19. Berbagi Cinta.
Jangan pelit untuk membagikan hal-hal yang kita cintai. Misalnya, hobi yang paling kita gemari, lagu, atau puisi yang indah, resep masakan yang lezat, kenangan terindah masa kecil, permainan yang mengasyikkan. Apa pun bentuknya, pasti akan dikenang dan dihargai.
20. Tetapkan Waktu Tidur Si Kecil.
Menjelang anak usia 3 bulan, Anda perlu menerapkan waktu tidur yang teratur jika memang menginginkan sang anak nantinya punya keteraturan di usia 1 tahun ke atas. Selepas usia itu, akan lebih sulit baginya untuk mengubah kebiasaan yang sudah terbentuk selama ini. Jika berada dalam keranjang buaian, pindahkan ke tempat tidurnya. Bila mustahil bagi kita untuk terus-menerus menemaninya tidur, mulailah biasakan ia tidur sendiri di kamarnya.
21. Berikan Empati.
Cobalah tempatkan diri di pihaknya. Jika kita tak tahu pasti apa yang terjadi pada situasi tertentu, jangan main hakim sendiri. Contohnya, bila anak berkata, "Aku sebel sama guruku. Tadi aku jadi tertawakan teman-teman." Jangan cepat-cepat menanggapinya dengan komentar yang sama sekali tak menunjukkan empati, seperti, "Habis kamu memang pantas ditertawakan, sih."
22. Jangan Mendewakan Sang Ahli.
Percayalah, semata-mata pada buah hati kita, bukan pada CD Mozart, sekolah bayi, atau CD pengasuhan anak. Tak ada yang tahu persis apa dan siapa yang paling dibutuhkan sang anak selain dirinya sendiri.
23. Tak Perlu Malu Bersikap Konyol.
Menari berkeliling, bersendawa, tertawa terpingkal-pingkal hingga mengeluarkan air mata, atau menyemburkan biji melon ke arah Si Kecil merupakan hal-hal yang mengasyikkan untuk dilakukan bersama.
24. Rancanglah Acara Makan Bersama.
Biarkan Si Kecil terlibat dalam perencanaan, misalnya membantu memilihkan menunya. Strategi ini akan membuat anak makan dengan lahap apa yang tersaji.
25. Biarlah Sesekali Melanggar Aturan.
Misalnya, menikmati es krim sehabis makan malam atau mengenakan piyama sepanjang hari di akhir pekan. Pasti akan mengasyikkan.

Lets do it Safanun's mother, just for your angels!

The most things is expected by my children from me ...


Diposting pada 2009-02-13 09:00:00 dalam channel keluarga/anak

Mereka belum bisa meminta hal-hal ini, tapi aku harus tahu ada hal-hal yang paling diinginkan safanun dariku ...

1. Tidak bertengkar di hadapan mereka.
Anak selalu mencontoh tindakan kita-orang tua. Apa jadinya jika setiap hari orang tua adu mulut di hadapan mereka?
2. Berlaku adil terhadap semua anak-anaknya.
Setiap anak memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Yang mereka butuhkan bukan perlakuan yang sama, melainkan perlakuan yang adil, sesuai kebutuhan masing-masing anak.
3. Orang tua yang jujur.
Kita-orang tua yang meminta anaknya berbohong, tentu tidak sadar pada apa yang tengah dilakukannya. Sekali lagi, anak mencontoh apa yang dilakukan orang tuanya.
4. Toleran terhadap orang lain.
Toleransi akan mengajarkan anak untuk menghargai perbedaan.
5. Selalu menyambut teman-teman mereka dengan ramah.
6. Mau membangun semangat tim bersama mereka.
Kekompakan antar kita-orang tua dan anak akan sangat berpengaruh saat anak beranjak dewasa.
7. Mau menjawab setiap pertanyaan mereka.
Luangkan waktu untuk mereka. Jika kita tak mampu menjawab, katakan kita-orang tua akan mencari tahu lebih dulu.
8. Mau mengajarkan disiplin, namun tidak di depan orang lain, terutama teman-teman mereka. Intinya, jagalah perasaan anak.
9. Lebih melihat sisi positif ketimbang sisi buruk mereka.
10. Konsisten.
Bayangkan, apa yang dirasakan anak jika hari ini kita-orang tua menjawab A dan besok menjawab B untuk pertanyaan yang sama yang diajukan anak.

Come on Safanun's mother, you can do that, like is mentioned above!!!