PKM merupakan salah satu upaya yang dilakukan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DITLITABMAS) Ditjen Dikti untuk meningkatkan mutu peserta didik (mahasiswa) di perguruan tinggi agar kelak dapat menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan meyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian serta memperkaya budaya nasional. PKM dilaksanakan pertama kali pada tahun 2001, yaitu setelah dilaksanakannya program restrukturisasi di lingkungan Ditjen Dikti. Kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang selama ini sarat dengan partisipasi aktif mahasiswa, diintegrasikan ke dalam satu wahana yaitu PKM (sumber: Pedoman Program Kreativitas Mahasiswa 2011)Pengumuman PKM DIKTI 2012
PKM merupakan salah satu upaya yang dilakukan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DITLITABMAS) Ditjen Dikti untuk meningkatkan mutu peserta didik (mahasiswa) di perguruan tinggi agar kelak dapat menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan meyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian serta memperkaya budaya nasional. PKM dilaksanakan pertama kali pada tahun 2001, yaitu setelah dilaksanakannya program restrukturisasi di lingkungan Ditjen Dikti. Kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang selama ini sarat dengan partisipasi aktif mahasiswa, diintegrasikan ke dalam satu wahana yaitu PKM (sumber: Pedoman Program Kreativitas Mahasiswa 2011)LEHER PUNDAK kaku KEPALA pusing ... TENSION HEADACHE
Tersengat (lagi-lagi)

Hari ini, hari minggu. Sejak kemarin, saya, suami dan anak-anak sudah merencanakan bahwa hari ini tidak ada acara jalan-jalan maupun pijat refleksi, seperti yang biasa kami lakukan jika weekend tiba. Kami bersiap menghabiskan tanggal merah ini dengan nonton TV, main games dan tidur siang :D. Bener... sampai pukul 10 siang, kami berempat belum ada yang mandi, belum ada yang beranjak dari depan TV dan yang pasti .... semuanya masih bau!!! Sekitar pukul setengah sebelas siang itu, HP jadul saya menyuarakan tanda SMS masuk. Segera saya raih HP dekat rak buku dan ....
”Ibu mau nglayat Fauzan 3B di Taman Krajan C9.” Degg...dadaku seketika berdegup kencang. Segera ingatan saya mundur ke beberapa hari belakangan ini.
”Mama, temen Shafa, si Fauzan jatuh pingsan di sekolah trus sekarang belum masuk sekolah.”
Dengan cepat, ku suruh anak-anakku dan ayahnya mandi untuk berangkat takziyah. Sepanjang perjalanan ke rumah Fauzan, si bungsu Hanun tidak henti-hentinya bertanya. ”Ma, kenapa mas Fauzan meninggal? Kasihan ya? Mas Fauzan sakit nduk. Nanti kita tanya ibunya ya, mas Fauzan sakit apa?”
Sampai di Taman Krajan C9, turun dari mobil kulihat ada kilat bening dimata Shafa. Ku tarik tangannya pelan dan kupegang erat-erat, berharap ada energi kecil yang mengalir ke tubuhnya. Seperti tahu, suamiku langsung mengendong adiknya yang sedari tadi tidak pernah berhenti tentang mas Fauzan.
Rumah diujung jalan perumahan itu sudah ramai oleh pelayat. Ketika aku dan Shafa mau masuk ke rumah, adiknya tidak mau duduk diluar bersama ayahnya. Dengan terpaksa, kami bertiga menemui ibunya Fauzan. Tepat di depan pintu... kulihat jenazah Fauzan sudah dibaringkan di atas meja dengan ditutupi kain batik coklat. Lirih kudengar, Shafa bertanya, ”Ma, Fauzan mana?” Dengan nafas tersendat, ”Kakak, Fauzan sedang tidur nyenyak berselimut batik di atas meja itu.”
Mendengar jawaban itu, kurasakan tangannya langsung mencengkeram erat jari-jariku, tatapan matanya tertuju pada jenazah di depannya. Kutarik kedua anakku pelan, untuk menyalami ibunya Fauzan yang tertunduk lemah diujung ruangan.
”Terima kasih bu atas kedatangannya.” Sembari mencium pipi anakku, lirih kudengar beliau bertanya, ”Teman sekolahnya Fauzan ya?” Kulihat, anakku menganggukan kepalanya dan aku yakin sekali, Shafaku dengan sekuat tenaganya berusaha menahan airmatanya menetes. (Mereka memang berasal dari sekolah dasar yang sama, tetapi satu kelas hanya pada saat kelas IA. Di kelas dan tiga sekarang ini, mereka sudah berpisah kelas).
Tidak ada kata-kata sedikitpun yang bisa keluar dari mulut saya. Anak-anakpun dengan tenang duduk didekatku. Kutatap peti jenazah diujung ruangan tamu ini. Dengan cepat pikiranku melayang-layang entah kemana.... dan berhenti pada satu titik:
Tanpa sadar ku hela nafasku. Kupandangi kedua buah hatiku. Pikiranku masih menerawang jauh.... Belum banyak atau belum ada sama sekali, persiapan yang kulakukan untuk menyongsong giliran itu. Aku terlalu sibuk...sangat sibuk malahan, memikirkan urusan duniawiku. Padahal jika aku menyadarinya, semua yang kulakukan setiap detik atas nama duniawi itu adalah lahan ibadah untuk kehidupan akhiratku dalam menghadapi giliran itu. Lalu mengapa, aku selalu lupa untuk menjalani setiap detik nafas kehidupanku dengan ikhlas hanya mengharap ridho-Nya, dengan segenap dan setulus hatiku tanpa mengeluh...bahwa semuanya berasal dari-Nya, semua harus dipertanggungjawabkan kepada-Nya dan pasti akan diminta kembali oleh-Nya! Masya Allah...
Pengalaman spiritual ....
Aku lahir dari orangtua yang berbeda keimanan. Sampai usia pendidikan dasar, kedua orangtua yang menyayangiku tidak memiliki masalah apapun dengan perbedaan ini apalagi diriku. Sampai ketika, jika pada hari jumat aku selalu dijemput embah (kakekku dari ayah) mengikuti sholat jumat berjamah di masjid dekat rumahku dan besok minggunya, kakek (embah dari ibu) mengajakku menghadiri ritual ibadah keyakinan yang berbeda. Semua kartu identitas dan dokumen penting diriku, dari rapor TK sampai KTP, tertuliskan keyakinan yang sama dengan kakek. Bingung... capek? ... Tidak! Atau tepatnya belum kaleee...
Sumber gambar: tomygnt.wordpress.com
Kegalauan hati ini hanya sedikit terlupakan bukan terobati ... jika aku kembali ke bangku kuliahku di Yogyakarta. Tapi ternyata di sinipun, semakin banyak masalah' yang kutemui. Dari berita proses perceraian orangtuaku, uang kiriman yang kurang dan sering terlambat pasca perpisahan itu, belum lagi tugas-tugas perkuliahan yang menumpuk, dan .... kisah romansaku yang bertepuk sebelah tangan. Jiwaku yang labil membuat aku terpuruk sehingga akhirnya aku jarang masuk kuliah dan akibat pastinya ... IPK ku terjun bebas. Ketidakhadiranku di kampus tidak hanya disebabkan karena masalah-masalah itu saja tapi juga karena aku harus berusaha keras membanting tulang untuk mencari tambahan uang agar aku dapat bertahan hidup di kota perantauan ini. Cukup sudah kesedihan dan penderitaanku ini.
Hingga suatu saat, kuputuskan untuk berlari menghindari luka ini dengan mendaki salah satu puncak gunung tertinggi di Jawa. Kubawa semua perih ini dalam ransel besarku. Kubungkus rapi sehingga tidak ada seorangpun teman seperjalananku kali ini mengetahui alasan kepergianku kali ini. Kuturuti kehendak kaki ini melangkah. Tidak kuindahkan langkah kecil teman-temanku. Ku abaikan jeritan nuraniku yang meminta berhenti dan beristirahatlah barang sejenak.
Gerakan-gerakan yang dilakukan sosok tadi begitu kukenal sekali, begitu terasa dekat sekali dengan keseharianku dulu, dulu sekali, gerakan itu selalu kulakukan bersama embah, waktu masih dirumah embah.
Note:Terinspirasi oleh pengalaman spiritual salah satu anak didikku. Semoga engkau selalu tetap berada dijalan, petunjuk, dan tuntunan Allah SWT, dimanapun sekarang kau berada. Terakhir aku bertemu dengannya, dia mengutarakan niatnya akan nyantri di salah satu pesantren di Sukabumi. Semoga niatmu terwujud. Amin.
UCAPAN ITU ..... MUTLAK BENAR ADANYA!
"Saya sungguh tercengang. Tidak pernah saya melihat sesuatu YANG SERIUS LAGI PASTI, tetapi DIANGGAP REMEH seperti tidak akan terjadi, yakni MAUT." Apakah kalimat di atas masih belum jelas bagi saya? Apakah kalimat itu masih saya anggap angin lalu dan masuk kategori useless di kamus kehidupan saya? jujur....Saya harus membacanya berulang-ulang dan masih sering lupa menggunakan kalimat itu sebagai rem yang sangat pakem bin akurat binti presisi bagi dinamika kehidupan saya setiap helaan nafasku. Mungkin sangat baik kalo kalimat itu saya jadikan remainder setiap hari pada saat saya berangkat dan bangun tidur di HP saya. Ide bagus versi saya sendiri :) yang sangat amat "pelupa". Bagaimana menurut Anda?







