Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Pengumuman PKM DIKTI 2012

PKM merupakan salah satu upaya yang dilakukan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DITLITABMAS) Ditjen Dikti untuk meningkatkan mutu peserta didik (mahasiswa) di perguruan tinggi agar kelak dapat menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademis dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan meyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian serta memperkaya budaya nasional. PKM dilaksanakan pertama kali pada tahun 2001, yaitu setelah dilaksanakannya program restrukturisasi di lingkungan Ditjen Dikti. Kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang selama ini sarat dengan partisipasi aktif mahasiswa, diintegrasikan ke dalam satu wahana yaitu PKM (sumber: Pedoman Program Kreativitas Mahasiswa 2011)





Pada tahun 2010, kami mengikuti kegiatan PKM ini dimana ide penelitian murni berasal dari adik-adik mahasiswa, yang terdiri dari: Annisa H., Adityarini, dan Ayu Puspita Rini. Ketiganya semua berasal dari angkatan 2006. Pada saat itu judul penelitian kami adalah "Perancangan Alat Bantu Pada Proses Pengepresan Kardus Bekas Dengan Pendekatan Quality Function Deployment (QFD)". Penelitian ini dilatarbelakangi keterbatasan kondisi usaha pengepul karton bekas yang kurang berkembang. Adapun keterbatasan kondisi yang dimaksud disini antara lain terbatasnya modal, sumberdaya manusia, ketersediaan tempat, dan teknologi. Dengan adanya keterbatasan tersebut mengakibatkan kuantitas output yang dihasilkan tidak maksimal yang tentunya berpengaruh terhadap besarnya keuntungan yang didapat. Salah satu faktor yang mempengaruhi hal tersebut adalah proses pengepresan kardus yang ditangani masih secara manual, sehingga kurang efisien dari segi waktu, tenaga, dan biaya. Oleh karena itu, penelitian ini masuk kategori PKM-T, yang mewajibkan mahasiswa bertukar pikiran dengan mitra terlebih dahulu, karena produk PKMT merupakan solusi atas persoalan prioritas mitra. Mitra yang kami ajak untuk bekerjasama adalah salah satu industri rumah tangga pengepul karton bekas disekitar daerah Godean. Alhamdulillah, kerja keras tim mereka berbuah manis dengan lolosnya proposal mereka untuk didanai Dikti pada anggaran 2010, dua tahun kemarin.



Setelah vakum pada tahun 2011, dhani putuskan kembali untuk mencari adik-adik yang bersedia dan memiliki kemauan, tekad dan dedikasi untuk belajar bersama-sama melakukan penelitian (suit...suit..suit). Latarbelakang penelitian ini adalah bahwa Indonesia ke depan membutuhkan sekitar 13 juta rumah baru bagi masyarakat. Data tersebut diperoleh berdasarkan hasil sensus penduduk yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2010 lalu. Menurut Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) Suharso Monoarfa, selama ini jumlah kebutuhan rumah di Indonesia dihidung berdasarkan angka rumah yang telah dibangun oleh masyarakat dan pengembang dikurangi dengan rumah yang tidak layak huni serta pertambahan kebutuhan masyarakat setiap tahun. Pada tahun 2004 lalu, diperkirakan jumlah kebutuhan rumah di Indonesia mencapai angka 7,4 juta unit. Sedangkan pada tahun 2009 angkanya terus bertambah mengingat kebutuhan masyarakat akan perumahan juga terus meningkat. Beberapa pengamat bahkan memperkirakan angka rumah yang dibutuhkan oleh masyarakat mencapai kisaran angka 8 juta unit (Kompas.com, Juli 2011). Oleh karena itu keperluan batako sebagai alternatif pengganti batu bata akan terus meningkat. Sedangkan ketersediaan bahan baku semakin lama akan berkurang. Oleh karena perlu dilakukan pencarian alternatif bahan baku pengganti pembuatan batako, sehingga proposal ini, lebih tepat kalau kami ikutkan pada kategori PKM-P.



Dan akhirnya ..... setelah menunggu beberapa bulan mulai dari pengiriman proposal sekitar bulan Oktober 2011, akhirnya pengumuman Program Kreativitas Mahasiswa yang akan didanai Dikti tahun anggaran 2012 keluar juga. Alhamdulillah, proposal adik-adik yang kemarin bersama-sama berusaha untuk mendapatkan kesempatan belajar melakukan penelitian, yaitu Yanwari Kriswty, Lentera Mary H. (dari angkatan 2009) dan Muhyidin Salim, Wahyu Yulianto (dari angkatan 2010), insyaallah berhasil mendapatkan bantuan dana penelitian dari Dikti.



Good job...sukses selalu adik-adikku!


sumber gambar: compliance.vpr.okstate.edu

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

LEHER PUNDAK kaku KEPALA pusing ... TENSION HEADACHE




Di awal bulan tahun 2012 ini, akhirnya ...setelah 'tidak kuat lagi'...dhani putuskan untuk periksa ke dokter. Tepatnya hari Sabtu 14 Januari 2012, ku telpon bagian pendaftaran sebuah rumah sakit swasta di Yogyakarta yang berlokasi di dekat bunderan UGM itu. Dhani pilih dokter syaraf yang berpraktek sekitar pukul 04.00 pm. Kenapa pilih dokter syaraf? Ceritanya begini:






"Sudah hampir sebulan lebih, kepalaku sering pusing, tapi akhir-akhir ini pusingnya semakin 'ugalan-ugalan :D... trus hanya terasanya di bagian kepala belakang sebelah kanan. Migrain? Dugaanku begitu sih.... trus dhani coba minum obat bebas yang promosinya bisa menyembuhkan migran itu...memang mendingan, tapi beberapa jam muncul lagi, rasa nyut-nyutnya itu. Waduh...bisa berbahaya nih kalo diterus-teruskan minum obat bebas tanpa pengawasan dokter... begitu khan peringatan di hampir semua brosur obat bebas itu!



Selain itu, dhani juga coba periksa tekanan darah, gula darah, asam urat dan kolesterol. Nilainya masih berada di kisaran nilai rujukan. Alhamdulillah, insyaallah 'semuanya' masih baik-baik saja.



Trus, selain minum obat bebas itu, dhani juga mencoba pijat refleksi secara rutin setiap seminggu sekali yang difokuskan pada rasa sakitku dibelakang kepala itu. Abis pijat, memang badan dan kepala terasa ringan, tetapi.... rasa ringan yang di kepala hanya beberapa saat saja. Aduh... si pusing nyut-nyut itu datang lagi..capek deh!!!






Setelah menunggu agak lumayan lama, karena dapat urutannya nomor 16, dhani dipanggil juga. Setelah menceritakan semua keluhan yang dhani rasakan: kepala bagian belakang sebelah kanan pusing sekali, leher dan dan pundak kaku ples sakit banget. Kalo pas menguap dan bersin terasa tertarik ototnya dan sakit. Sakit kepala..cleng juga dhani rasakan kalo pas menunduk rukuk dan sujud pada saat sholat. Satu lagi, leher sebelah kanan depan kalo ditekan lumayan sakit tapi tidak ada masalah untuk menelan makanan.



Selanjutnya dhani diminta berbaring dan mengangkat kedua kaki tinggi-tinggi, yang sebelumnya dengkulku sudah 'dipukul' dulu sama palu kecil. Thung..."Karena stres ya dokter?" (Habis kalo dhani ke dokter, sedikit-sedikit didiagnosis stres...jadi sebelum sempat dokternya bilang kayak itu, dhani nyelentuk duluan saja.. kikikikik)



"Siapa bilang stres", pak dokter menyahut dengan cepat sambil tersenyum. "Ibu, semuanya baik-baik saja, kemungkinan ibu terkena tension headache. Bagaimana kalo saya suntik di leher dan di pundak untuk mengendorkan tegangan yang ibu rasakan? Oke dokter, insyaallah saya tidak bermasalah dengan jarum suntuk." (Psssstt... saya tipe pasien ndeso yang sangat yakin dengan 'kekuatan suntik', pokoke belum berasa ke dokter kalo belum disuntik hi hi hi). Sebelum disuntik, leher dan pundak saya disemprot cairan dan rasanya dingin banget...pasti untuk mengurangi rasa sakit pas diinjeksi.


"Ibu harus bisa 'niteni' sendiri asupan makanan apa yang dapat menjadi pemicu timbulnya tension ini. Setiap orang berbeda-beda pantangan dan penyebabnya. Bisa coklat, vetsin, seafood, dan lain-lain," kata pak dokter mengingatkan kembali.


Akhirnya, sekitar 05:45 kudapatkan resep dengan rincian sebagai berikut: paracetamol 500 mg (10), clofritis tab (10), vitamin B6 25 mg (10), coffeinum/gr (0), valisanbe 5 mg tab (2), racikan kapsul (20), ergotika 1 mg tab (20). Trus ada tambahan chloraethyl 100 ml ples injeksi peri artikuler (pastinya ini yang buat nyuntik tadi kalee ya?).


Alhamdulillah, setelah minum obat, malamnya tidurku lumayan nyenyak dan pusingnya berangsur-angsur menghilang, seiring dengan kekakuan di pundak juga menurun ples leher tidak terasa sakit lagi kalo ditekan. Eitsss.... satu lagi dhani juga disuruh olahraga ringan setiap hari... (tahu saja pak dokter kalo dhani ngga pernah olahraga!). Oke pak dokter... laksanakan. Tu..wa..ga.....tu..wa..ga...zzzzzzz

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tersengat (lagi-lagi)


Hari ini, hari minggu. Sejak kemarin, saya, suami dan anak-anak sudah merencanakan bahwa hari ini tidak ada acara jalan-jalan maupun pijat refleksi, seperti yang biasa kami lakukan jika weekend tiba. Kami bersiap menghabiskan tanggal merah ini dengan nonton TV, main games dan tidur siang :D. Bener... sampai pukul 10 siang, kami berempat belum ada yang mandi, belum ada yang beranjak dari depan TV dan yang pasti .... semuanya masih bau!!! Sekitar pukul setengah sebelas siang itu, HP jadul saya menyuarakan tanda SMS masuk. Segera saya raih HP dekat rak buku dan ....
”Ibu mau nglayat Fauzan 3B di Taman Krajan C9.” Degg...dadaku seketika berdegup kencang. Segera ingatan saya mundur ke beberapa hari belakangan ini.
”Mama, temen Shafa, si Fauzan jatuh pingsan di sekolah trus sekarang belum masuk sekolah.”
Dengan cepat, ku suruh anak-anakku dan ayahnya mandi untuk berangkat takziyah. Sepanjang perjalanan ke rumah Fauzan, si bungsu Hanun tidak henti-hentinya bertanya. ”Ma, kenapa mas Fauzan meninggal? Kasihan ya? Mas Fauzan sakit nduk. Nanti kita tanya ibunya ya, mas Fauzan sakit apa?”


Kulirik, sulungku Shafa. Kepalanya bersandar dibahuku. Kupegang tangannya yang terasa agak dingin. ”Kakak nggak pa-pa khan?” Hanya gelengan kepala kecil yang kulihat.
Sampai di Taman Krajan C9, turun dari mobil kulihat ada kilat bening dimata Shafa. Ku tarik tangannya pelan dan kupegang erat-erat, berharap ada energi kecil yang mengalir ke tubuhnya. Seperti tahu, suamiku langsung mengendong adiknya yang sedari tadi tidak pernah berhenti tentang mas Fauzan.
Rumah diujung jalan perumahan itu sudah ramai oleh pelayat. Ketika aku dan Shafa mau masuk ke rumah, adiknya tidak mau duduk diluar bersama ayahnya. Dengan terpaksa, kami bertiga menemui ibunya Fauzan. Tepat di depan pintu... kulihat jenazah Fauzan sudah dibaringkan di atas meja dengan ditutupi kain batik coklat. Lirih kudengar, Shafa bertanya, ”Ma, Fauzan mana?” Dengan nafas tersendat, ”Kakak, Fauzan sedang tidur nyenyak berselimut batik di atas meja itu.”
Mendengar jawaban itu, kurasakan tangannya langsung mencengkeram erat jari-jariku, tatapan matanya tertuju pada jenazah di depannya. Kutarik kedua anakku pelan, untuk menyalami ibunya Fauzan yang tertunduk lemah diujung ruangan.
”Terima kasih bu atas kedatangannya.” Sembari mencium pipi anakku, lirih kudengar beliau bertanya, ”Teman sekolahnya Fauzan ya?” Kulihat, anakku menganggukan kepalanya dan aku yakin sekali, Shafaku dengan sekuat tenaganya berusaha menahan airmatanya menetes. (Mereka memang berasal dari sekolah dasar yang sama, tetapi satu kelas hanya pada saat kelas IA. Di kelas dan tiga sekarang ini, mereka sudah berpisah kelas).

”Sudah seminggu ini bu, Fauzan di opname di rumah sakit. Kata dokter, ada virus toksoplasma jenis baru dibelakang kepalanya. Sebelumnya tidak ada tanda-tanda Fauzan sakit ,” kata Ibu Fauzan lirih.
Tidak ada kata-kata sedikitpun yang bisa keluar dari mulut saya. Anak-anakpun dengan tenang duduk didekatku. Kutatap peti jenazah diujung ruangan tamu ini. Dengan cepat pikiranku melayang-layang entah kemana.... dan berhenti pada satu titik:


'Hidup dan mati memang benar-benar rahasia-Nya. Bayi, anak kecil, remaja, orang dewasa orang tua. Orang kaya sampai miliuner, kurang mampu, cukup mapan. Kulit putih, hitam, sawo matang...... suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, kita semua PASTI dijemputnya. Dia tidak membedakan atas semua itu. Kita semua ”hanya menunggu giliran.”
Tanpa sadar ku hela nafasku. Kupandangi kedua buah hatiku. Pikiranku masih menerawang jauh.... Belum banyak atau belum ada sama sekali, persiapan yang kulakukan untuk menyongsong giliran itu. Aku terlalu sibuk...sangat sibuk malahan, memikirkan urusan duniawiku. Padahal jika aku menyadarinya, semua yang kulakukan setiap detik atas nama duniawi itu adalah lahan ibadah untuk kehidupan akhiratku dalam menghadapi giliran itu. Lalu mengapa, aku selalu lupa untuk menjalani setiap detik nafas kehidupanku dengan ikhlas hanya mengharap ridho-Nya, dengan segenap dan setulus hatiku tanpa mengeluh...bahwa semuanya berasal dari-Nya, semua harus dipertanggungjawabkan kepada-Nya dan pasti akan diminta kembali oleh-Nya! Masya Allah...

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pengalaman spiritual ....


Aku lahir dari orangtua yang berbeda keimanan. Sampai usia pendidikan dasar, kedua orangtua yang menyayangiku tidak memiliki masalah apapun dengan perbedaan ini apalagi diriku. Sampai ketika, jika pada hari jumat aku selalu dijemput embah (kakekku dari ayah) mengikuti sholat jumat berjamah di masjid dekat rumahku dan besok minggunya, kakek (embah dari ibu) mengajakku menghadiri ritual ibadah keyakinan yang berbeda. Semua kartu identitas dan dokumen penting diriku, dari rapor TK sampai KTP, tertuliskan keyakinan yang sama dengan kakek. Bingung... capek? ... Tidak! Atau tepatnya belum kaleee...
Sumber gambar: tomygnt.wordpress.com


Semuanya berjalan "baik-baik saja" sampai tanpa sadar usiaku menginjak kepala 2. Seiring dengan pertambahan usia ini, semakin banyak kebingungan yang kualami. Semakin lelah hati ini untuk dapat 'memahami' pertengkaran-pertengkaran yang terjadi di sekelilingku, pertikaian yang dilakukan oleh orang-orang yang kusayangi. Tarikan, bujukan, rayuan, dan pengaruh untuk mengikuti mereka ke kiri atau ke kanan.
Kegalauan hati ini hanya sedikit terlupakan bukan terobati ... jika aku kembali ke bangku kuliahku di Yogyakarta. Tapi ternyata di sinipun, semakin banyak masalah' yang kutemui. Dari berita proses perceraian orangtuaku, uang kiriman yang kurang dan sering terlambat pasca perpisahan itu, belum lagi tugas-tugas perkuliahan yang menumpuk, dan .... kisah romansaku yang bertepuk sebelah tangan. Jiwaku yang labil membuat aku terpuruk sehingga akhirnya aku jarang masuk kuliah dan akibat pastinya ... IPK ku terjun bebas. Ketidakhadiranku di kampus tidak hanya disebabkan karena masalah-masalah itu saja tapi juga karena aku harus berusaha keras membanting tulang untuk mencari tambahan uang agar aku dapat bertahan hidup di kota perantauan ini. Cukup sudah kesedihan dan penderitaanku ini.
Hingga suatu saat, kuputuskan untuk berlari menghindari luka ini dengan mendaki salah satu puncak gunung tertinggi di Jawa. Kubawa semua perih ini dalam ransel besarku. Kubungkus rapi sehingga tidak ada seorangpun teman seperjalananku kali ini mengetahui alasan kepergianku kali ini. Kuturuti kehendak kaki ini melangkah. Tidak kuindahkan langkah kecil teman-temanku. Ku abaikan jeritan nuraniku yang meminta berhenti dan beristirahatlah barang sejenak.

Tanpa kusadari diriku sudah jauh meninggalkan rombongan dan .... aku hanya sendirian... sepi...dingin...ditempat tinggi ini. Kubiarkan kelelahan ragawi dan dentuman angin kencang gunung menerpaku. Kuberharap semua masalah ini akan terhapus dan tergerus oleh dinginnya hawa dingin ini. Hingga tanpa kusadari akhirnya jaket super tebal kebanggaanku ini tidak mampu lagi melindungiku. Tiba-tiba badanku terasa limbung, pandangan semakin kabur dan gelap. Hanya satu kata yang kuingat .... HIPOTERMIA. Akhirnya aku jatuh pingsan.

Tidak tahu berapa lama aku pingsan, aku hanya ingat... dari arah belakangku ada tangan kurus keriput mengelus kepala sampai tengkukku. Hawa hangat seketika menjalar lembut keseluruh tubuhku. Aku terbangun dan .... mulai tersadar. Segera ku putar badanku untuk mencari pemilik tangan hangat penyelamatku itu. Sepi... tidak ada siapa-siapa. Hanya kabut nan tebal di sekitarku. Eits.....tunggu.....sekitar 3 - 4 langkah dari tempatku terbangun, kulihat seorang berjubah putih bersih dengan rambut dipenuhi uban sedikit panjang terurai dan melambai diterbangkan angin. Kuperhatikan sosok itu dengan saksama tanpa ada daya dan kekuatan sedikitpun untuk berdiri dan mendekatinya.




Allahu akbar... (kudengar samar-samar seruan itu), kemudian kuperhatikan orang itu membungkukkan badannya.. Allahu akbar... (semakin jelas kembali kudengar kalimat itu), dia berdiri tegak sejenak dan kemudian sujud...

Terasa jantungku berdegup kencang. Kuhela nafas dalam untuk mengatur nafasku yang tersengal-sengal. Kuusap wajah dinginku sekedar untuk mengalirkan hawa panas dan ku ucek-ucek mata ini untuk menyakinkan bahwa sosok yang kulihat itu memang benar ada. Sesaat kubuka mataku kembali....Heii, dimana sosok putih tadi, dimana seruan damai yang kudengar tadi... Dengan cepat ketebarkan pandanganku ke segala penjuru arah berkali-kali...tetapi usahaku nihil. Tidak kutemukan si jubah putih itu...
Gerakan-gerakan yang dilakukan sosok tadi begitu kukenal sekali, begitu terasa dekat sekali dengan keseharianku dulu, dulu sekali, gerakan itu selalu kulakukan bersama embah, waktu masih dirumah embah.

Asthagfirllohallazhim... tanpa sadar kalimat itu keluar dari mulutku yang hampir bertahun-tahun tidak pernah mengucapkannya. Tertunduk kepalaku, terpekur... Allahu akbar...allahu akbar...allahu akbar.... tanpa sadar dengan pelan, ku tirukan seruan sosok jubah putih itu. Kehangatan segera menyeruak di seluruh tubuhku. Serasa menggelontorkan semua beban yang membuncah di dada ini. Mungkinkah ini adalah jawaban ''pendakianku'' selama ini? Muara atas semua kesedihan, kegelisahan, kemarahan, dan kebingungan ini? Masya Allah...

Note:Terinspirasi oleh pengalaman spiritual salah satu anak didikku. Semoga engkau selalu tetap berada dijalan, petunjuk, dan tuntunan Allah SWT, dimanapun sekarang kau berada. Terakhir aku bertemu dengannya, dia mengutarakan niatnya akan nyantri di salah satu pesantren di Sukabumi. Semoga niatmu terwujud. Amin.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

UCAPAN ITU ..... MUTLAK BENAR ADANYA!

"Saya sungguh tercengang. Tidak pernah saya melihat sesuatu YANG SERIUS LAGI PASTI, tetapi DIANGGAP REMEH seperti tidak akan terjadi, yakni MAUT."


"Saya juga tidak melihat sesuatu yang akan DITINGGALKAN LAGI KECIL, tetapi DIPEREBUTKAN seperti yang besar dan kekal, yakni DUNIA."Ali ibn Abi Thalib r.a.

Apakah kalimat di atas masih belum jelas bagi saya? Apakah kalimat itu masih saya anggap angin lalu dan masuk kategori useless di kamus kehidupan saya? jujur....Saya harus membacanya berulang-ulang dan masih sering lupa menggunakan kalimat itu sebagai rem yang sangat pakem bin akurat binti presisi bagi dinamika kehidupan saya setiap helaan nafasku. Mungkin sangat baik kalo kalimat itu saya jadikan remainder setiap hari pada saat saya berangkat dan bangun tidur di HP saya. Ide bagus versi saya sendiri :) yang sangat amat "pelupa". Bagaimana menurut Anda?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS