Senin, Desember 07, 2009

Nobody immune to sadness ...


Kesedihan itu bener-bener terasa sekali.
Kegagalan itu terasa mengiris sukma (suit-suit.... alhamdulillah masih bisa tertawa).

Pada saat merasa teman bisa dipercaya, bisa dimintai bantuannya, bisa mempermudah kita...
Ternyata dia memanfatkan kita (ihiksss)...
Kadang-kadang berpikir untuk menjadi opportunis..
Tapi yah lagi-lagi itu bukan saya.

Pengakuannya???
Hanya di bibir saja, tidak ada yang dia lakukan untuk menebus kesalahannya.
"Apa yang harus saya lakukan?" Ternyata semuanya sandiwara saja

Kali lain,
Pada saat seorang teman yang lain mengangsurkan tangannya ... "Bilang sama dia, mungkin ada yang bisa saya bantu". Ternyata -lagi-lagi- hanya sandiwara!!!
Pekerjaannya hanya membuat orang sedih, sedih dan sedih.
Dia berbuat begitu hanya untuk menunjukkan bahwa dia punya kekuatan lebih...
Apa salahku padamu teman???

Saya baru sadar, ini dunia nyata walaupun saya hidup dilingkungan akademisi yang katanya lebih santun dibanding "dunia" lain, tapi ini tetap real world.
Watch out baby, beware....

Gambar diambil dari sini


Jumat, Desember 04, 2009

My cooking ... DENDENG CIHUYYY


Uups... daging sapi pembagian zakat kemaren masih menumpuk di kulkas. Daripada mubazir, dengan sok bisa masak, aku buka-buku resep koleksiku (padahal cuma 5 buah buku he he he ).

Bolak-balik terus, yang dicari ngga dapet-dapet... akhirnya ada resep dendeng. Ini dia!!!
Bahan:
500 gr daging sapi, iris lembaran
3 lembar daun salam, 2 cm lengkuas, 2 sdt air asam jawa, 2 sdm minyak goreng

Bumbu yang dihaluskan: 5 siung bawang merah, 2 siung bawang putih, 2 sdt ketumbar, 100 gr gula jawa, garam secukupnya
Cara memasak:
  1. Masak bumbu yang dihaluskan bersama dengan 400 cc air. Masukkan daging sapi dan bahan lain kecuali minyak goreng.
  2. Tutup wajan sambil sekali-kali diaduk. Biarkan sampai air habis.
  3. Setelah air habis, tuangkan 2 sdm minyak goreng, goreng sambil dibolak-balik lembaran daging sapinya.
  4. Ta...ta... ta.... sajikan dengan taburan bawang goreng.
Hmmmm..... yummy dah!!! Tips untuk memasak daging sapi: sebelum dimasak dipresto dulu ato kalo tidak punya dandang presto di bungkus dengan daun pepaya, memarkan dan biarkan 15' sebelum diolah menjadi masakan macam-macam.

Senin, November 02, 2009

Like becoming international chef ......



Biasakan anak-anak, kadang-kadang maemnya banyak, kadang sedikit. Hal ini pula yang terjadi pada anak sulungku. Karena kegiatannya sekolahnya makin bertambah, belum kegiatan les renang dan bahasa Inggrisnya, membuatku semakin senewen kalo dia sulit makan.

Berbagai cara aku coba untuk menambah nafsu makannya. Mulai vitamin merek A, B, sampai Z yang lalu lalang di iklan TV, sudah aku coba. Hanya pingin anakku makannya banyak, lahap dan... tentunya tetap sehat. 

Alhamdulillah, dia punya inisiatif sendiri bawa bekal ke sekolah. Katanya banyak temen-temennya juga bawa makanan ke sekolah trus dimaem bareng-bareng pas waktu istirahat diteras kelas. dengan semangat empat-lima setiap pagi aku usahakan membuat bekalnya bervariasi. Tapi....menu bekalnya kalo ngga nugget goreng...ya telur goreng, ayam goreng. Cuman tiga jenis itu thok...thok...thok.  Ternyata ketrampilan memasakku tidak cukup memadai untuk mengimbangi keinginanku ihikssss. Maafkan ibumu nduk yang ngga bisa pinter masak...kecuali ngrebus air sama masak mie instant (ngga boleh sebut merk lho!)

Pagi itu, dengan keinginan yang membara, dengan buku resep terbuka, aku coba bikin bekal yang lain buat shafaku. Kupas bawang merah, bawang putih, uleg-leg dengan garam. Sreng....... aku goreng dengan minyak sedikit. trus...blek, dani tambahkan nasi putih sepiring. Dengan gaya bak internasional chef, kubuat nasi goreng buat bekal angelku. Akhirnya... tha...tha... setelah jadi kumasukkan ke wadah kecil kutaburi irisan telur goreng dan tidak lupa termos minumannya ku isi dengan sirup jeruk kesukaannya.

Pas pulang kantor, shafaku langsung memelukku dan berkata "Terima kasih mama, aku sayang mama. Nasi goreng mama enak banget, temen-temenku banyak yang minta, aku sampe ngga kebagian, buatin lagi ya ma?" Haaaaaa... temen-temennya yang makan he he he...ngga penting yang itu,. The most important thing is... she already given me a tight hug and said I love you mom... and now I really-really feel like becoming international chef. Farah Quinn (I love her show on TV) lewatlah..... :D


Kamis, Agustus 06, 2009

Namaku ... Shafa Annisa

Sudah hampir 3 mingguan, sulungku belajar di kelas 1A SD Muhammadiyah Kadisoka Yogyakarta. Alhamdulillah, semuanya berjalan indah. Shafa ku sudah mulai biasa bangun dan mandi pagi, belajar dan mengerjakan PR ... woii amazing moments for me!

Jadwal kegiatannya kurang lebih seperti ini: bel tanda masuk kelas berbunyi pukul 6.30 WIB, istirahat jam 09.00 WIB trus dilanjutkan sampai saatnya pulang pukul 11.30 WIB.
Pada suatu sore, shafa bilang bahwa hari ini semua anak dikelasnya diminta bu guru memperkenalkan dirinya masing-masing. Ini cuplikan kalimat perkenalan anakku didepan kelas yang diceritakan kepadaku:


Namaku Shafa Annisa
Nama ayahku Pak Chaeron
Ibuku Bu Apriani
Aku punya adik, namanya Dik Hanun
Dia lucu sekali, rambutnya keriting, tapi yang kriwil-kriwil hanya bawahnya saja.
Sudah....


Terima kasih anakku, "keluguanmu" adalah energi positif yang luar biasa bagiku!

Senin, Juli 13, 2009

Teach from my heart

Setelah hampir 12 tahun mengajar, akhirnya dani berani menulis cerita ini. Walau sekarangpun masih belum apa-apa, jauh dari titik sempurna, tapi dani tetap terus belajar untuk menjadi dosen yang 'baik'...

Tahun 1997, tepatnya bulan Mei, dani putuskan untuk menjadi dosen. Hanya dengan modal bahwa dani harus bisa dapat 'uang' sendiri dan praduga bahwa mengajar itu mudah dan tentunya waktu kerja bisa 'dikorupsi' (KPU tau enggak ya?)sehingga bagi ibu-ibu semacam saya lebih leluasa mengatur jadwal mengurusi keluarga dirumah.

Ternyata... praduga itu salah. Memang tidak salah semuanya tapi hampir '100%' salahnya. Tentang gaji benar, alhamdulillah dani tidak perlu menadahkan tangan minta ke suami untuk membeli segala keperluan yang dani butuhkan, malah sisanya masih bisa digunakan untuk membayar uang les renang dan gitarnya anak-anak.

Tentang waktu bisa dikorupsi... tidak sepenuhnya benar walo juga tidak salah sih (he he he ). Kalau jadwal mengajarnya siang, bisalah datang siang saja. Tapi seiring dengan perjalanan waktu, proses pembelajaran diri tentang tanggung jawab dan pemahaman akan makna seorang 'guru' sing digugu lan ditiru, ternyata... untuk 'mengambil jatah waktu' kantor apalagi mengajar menjadi sesuatu yang sulit.

Rasanya 'risih' karena tidak masuk dan pulang kantor tepat waktu, karena dani mendapatkan gaji tetap untuk itu. Belum lagi bahwa adanya kewajiban penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Wow... kurang lebih 8 jam per hari bisa kurang. Tapi itu semua masih bisa 'disiasati'.

Tapi kalau sudah menyangkut nurani, lain permasalahannya...
Rasanya 'malu' karena mengajar, bimbingan kerja praktek, tugas akhir tidak sesuai dengan jadwal. Dani yakin ada 'sesuatu' yang bisa ditransfer ke mahasiswa dengan datang mengajar tepat waktu. Ada 'sesuatu' yang mereka tangkap melihat dosen pembimbingnya siap materi dan tepat jadwal untuk konsultasi. Tidak sekedar materi skripsi tapi lebih dari itu kedisiplinan dan semoga sedikit (sedikit sekali malahan) keteladanan tentang keteguhan memegang amanah. Amanah pada saat tanda tangan kesediaan menjadi dosen dan saat menerima surat keputusan pengangkatan dosen.

Ternyata memang berat dan sulit menjadi dosen yang amanah ya?